Artikel
PENGERAJIN TUDUNG SAJI (TEBOLAK) DI DESA PERESAK
Pengerajin Tebolak, Redup di Tengah Gemerlap Acara Adat
Beberapa langkah yang ditempuh Pemerintah Lombok Timur terkait pengenalan identitas kedaerahan disambut positif banyak kalangan. Salah satu yang cukup menyita perhatian adalah Festival Seribu Dulang yang melibatkan seluruh Kecamatan di Kabupaten Lombok Timur. Masyarakat sasak mengenal dulang sebagai gabungan beberapa jenis makanan yang disuguhkan pada acara-acara adat dan agama atau kepada tamu-tamu pnting.
Berbicara masalah dulang maka salah satu yang harus ada adalah Tebolak. Tebolak ini sendiri merupakan penutup saji makanan yang terbuat dari daun lontar yang dianyam berbentuk setengah bola. Boleh dikatakan kalau tebolak ini adalah salah satu perlengkapan adat yang telah diketahui keberadaannya oleh seluruh masyarakat sasak. Itulah sebabnya saat acara adat Lombok Timur Fesival Seribu Dulang, barang ini menjadi menjadi barang yang paling banyak dicari.
Di Desa Peresak Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur merupakan tempat pengerajin Tudung Saji (Tebolak) ini, jumlah pengerajin di Desa Peresak mencapai 300 KK lebih. Hampir setengah dari jumlah Penduduk sebanyak 750 KK. Tebolak identik dengan warna merah, berbagai macam warna, corak, bahkan untuk hiasan dinding bisa dibuat tergantung pesanan. Untuk ukuran dibuat berbeda-beda, ada yang kecil, sedang, dan besar.
Untuk pembuatan tudung saji ini memerlukan waktu yang cukup lama dan proses yang panjang sehingga para pengerajin hanya bisa menghasilkan 3 sampai 4 Kudi (20 buah Tebolak) dalam satu bulannya. Untuk mengasilkan tebolak sejumlah itu, para pengerajinpun hampir tidak memiliki waktu selain menganyam tiap hari.
Saat ini pemasaran Tebolak di lakukan melalui Pengepul yang ada di Desa Peresak, kemudian para pengepul menjualnya di Pasar Teradisional yang ada di Desa-desa lain dan terkadang mengantarkannya ke para pemesan.